mcent

Rabu, 16 Mei 2012

Pengalaman Mistis Tim SAR Saat Mencari Korban Sukhoi

Sejumlah relawan dan tim SAR rupanya punya pengalaman mistis dan misteri saat sedang mencari korban jatuhnya pesawat Shoi Superjet 100 di lereng Gunung Salak pada hari Rabu, tanggal 9 Mei 2012 lalu. Pengalaman mereka pun berbeda-beda, mulai dari yang melanggar larangan memetik bunga anggrek, bertemu nenek misterius hingga berhubungan badan dan mimpi basah bersama. Seperti dilansir blog harrys76, inilah cerita pengalaman mistis dari orang-orang yang ikut dalam pencarian korban jatuhnya Sukhoi.
Seorang lelaki yang tergabung dalam regu pada tim pencarian korban Sukhoi yang pertama kali diterjunkan ke Gunung Salak menceritakan pengalamannya saat ia berada pada ketinggian 1.700 kaki, pos terakhir tak jauh dari titik kordinat pesawat jatuh. Pada hari Sabtu dinihari, tanggal 12 Mei 2012, ia dan sekitar sembilan anggota regu lainnya bermimpi basah barengan saat sedang tertidur.
"Kami mimpi basah secara bersamaan," kata dia.
Anehnya, menurut dia mimpi basah karena berhubungan seks yang dialami seluruh anggota regu cukup identik. Awalnya mereka bermimpi disambut seorang wanita cantik pada sebuah rumah di puncak gunung tersebut. 
"Perempuan itu menyuguhi kami air minum," kata dia bercerita.
Tak lama berselang, mereka langsung diminta masuk ke dalam rumah itu untuk istirahat. Tetapi di dalam rumah, ternyata ada banyak perempuan yang tak kalah cantiknya dengan yang menyambutnya tadi. Setelah itu, para perempuan itu mencumbui mereka lalu berhubungan seks layaknya suami istri.
Cerita mistis lain juga dialami seorang pendaki yang pernah menjelajahi Gunung Salak. Kini ia bergabung dengan tim SAR sebagai sukarelawan pencari korban jatuhnya pesawat Sukhoi. Menjelang pendakian, ia banyak berkonsultasi dengan masyarakat yang berada di sekitar gunung tersebut.
"Banyak pantangannya disini," ujarnya.
Ia mengaku pernah menghiraukan pantangan penduduk untuk tidak mengambil bunga anggrek saat mendaki beberapa bulan lalu ke Gunung Salak. Maklum, kata dia, di sana banyak anggrek berbagai jenis yang cukup indah. Tapi apa yang terjadi. Timnya malah tersesat saat ingin pulang. Sepanjang hari mereka hanya berputar di puncak Gunung Salak secara berulang sampai malam hari.
Anggrek itu pun di simpan di salah satu tempat, timnya kemudian shalat Isya. Setelah shalat, timnya kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Ternyata jalan pulang hanya ditutupi ranting padahal kami sudah beberapa kali lewat di depan ranting itu," ujarnya sambil menggelengkan kepala.
Ia juga mengaku bertemu seorang nenek-nenek berusia sekitar 80 tahun di puncak gunung tersebut. Perempuan tua yang sudah bungkuk itu berjalan sendirian di sebuah padang dengan hanya memakai pakaian tipis.
"Kami tanya mau ke mana Nek, dia bilang hanya jalan-jalan," kata dia menirukan pernyataan nenek tersebut.
Saat ditanyai di mana tempat tinggalnya, wanita tua itu hanya menjawab,"Di sini Nak." Nenek itu menolak di antar ke kaki gunung. Pendaki ini melanjutkan, perempuan tua itu lalu bilang, "Saya senang di sini karena ramai bila malam, mereka sering kasih saya makan," tanpa menyebutkan siapa mereka yang dimaksud.
Yang mengherankan lagi, kata pendaki itu, si Nenek berbahasa Jawa kental, padahal mayoritas masyarakat di kaki gunung berbahasa Sunda. "Kami pun meninggalkan nenek itu sendirian," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar