mcent

Minggu, 08 Agustus 2010

'The Last Airbender' Disambut Dengan Komentar Miring dan Negatif

Jadi, Anda masih tetap ingin nonton 'The Last Airbender'? Setelah "seluruh dunia" berkomentar miring dan negatif terhadap karya terbaru sutradara M. Night Shyamalan itu? Baiklah. Bagaimana pun, memang, menonton film adalah sebuah pengalaman personal. Di Twitter, kehebohan yang tercipta dari twit-twit kaum remaja --kalangan penggemar setia serial televisinya-- yang mengungkapkan keinginan dan rasa penasarannya pada film ini terus saja berlangsung sampai berhari-hari. Bahkan, beberapa kali 'The Last Airbender' menjadi trending topic peringkat satu, sebagai isu yang paling banyak dibicarakan di Twitter pada suatu waktu.
Film 'The Last Airbender' dibuka di sebuah dataran tinggi berlapis es. Dua anak belia, laki-laki dan perempuan, sedang bermain-main. Yang perempuan sedang mencoba kemampuannya mengendalikan air, namun ternyata mengenai si laki-laki. Lalu, sebuah bola es raksasa muncul. Di dalamnya terlihat seorang bocah gundul membeku. Dan, Anda langsung tahu, dialah Aang, yang dijuluki The Las Airbender alias Pengendali Angin Terakhir, sang Avatar, yang akan menyelamatkan bangsa-bangsa (Kerajaan Bumi, Negara Api, Suku Air dan Pengembara Angin) dari kehancuran.
Ketika membebaskan Aang (Noah Ringer) dari bola salju yang mengurungnya, dua remaja yang sedang bermain-main tadi, yakni Katara (Nicola Peltz) dan Sokka (Jackson Rathbone) belum tahu bahwa bocah gundul itu adalah orang penting yang akan menyelamatkan kehidupan. Sementara Aang dibawa ke perkampungan Suku Air Selatan, tempat tinggal Katara si Pengendali Air, kita diperkenalkan dengan sebuah rombongan yang tengah melaju dalam kapal. Mereka adalah pasukan Negara Api, dipimpin oleh Pangeran Zuko (Dev Patel) yang sedang bermasalah: dia diasingkan oleh ayahnya karena dianggap lemah. Dia bertualang untuk menemukan Sang Avatar demi membuktikan bahwa dirinya bukanlah orang yang lemah, sehingga bisa kembali ke negaranya.
Keberadaan Aang di perkampungan Suku Air Selatan segera terlacak oleh Pangeran Zuko yang mencurigai bahwa bocah gundul itulah Sang Avatar yang dicarinya. Dia berhasil menangkap Aang, namun tidak lama kemudian Aang bisa lolos dan bergabung kembali dengan kakak-beradik Katara dan Sokka. Aang mengajak mereka mengunjungi masa lalunya, sebuah kuil besar. Namun, mereka hanya menjumpai kekosongan, dan tulang-tulang manusia yang berserakan.
Disimpulkan, bahwa Aang terperangkap dalam bola es tadi selama 100 tahun. Lalu, petualangan dilanjutkan kembali. Dan, segalanya sudah tidak sama lagi, sejak Aang diyakini sebagai Sang Avatar.
Kita dibuat terengah-engah dengan cara Shyamalan mengemas alur film ini, dari puluhan episode serial televisi menjadi 100 menit. Dongeng yang sebenarnya menarik menjadi terasa kurang jernih, melompat-lompat, seperti potongan-potongan yang disambung dengan kasar. Ini diperparah dengan akting para pemainnya yang kaku. Noah Ringer tampak sangat culun memerankan tokoh bocah ajaib yang ketika marah kedua bola matanya menyala. Ekspresi wajahnya yang "kosong" gagal meyakinkan kita bahwa dia adalah seorang penyelamat kehidupan yang tidak hanya ditunggu-tunggu tapi juga diincar untuk dimusnahkan oleh musuhnya.
Adegan ketika rakyat akhirnya menerima Aang sebagai Sang Avatar mestinya agung dan dramatis, namun nyatanya terasa datar-datar saja. Juga adegan-adegan laga yang bertumpu pada keajaiban air dan udara. Shyamalan tampaknya memang tidak mau jor-joran dengan special effect yang sensasional. Ini perlu dihargai. Namun, terlepas dari itu, film ini seperti kehilangan unsur yang mestinya tidak boleh absen dari kisah fantasi semacam ini, yakni "fun".
Kecuali panorama perkampungan-perkampuangan dunia Avatar yang indah dan memanjakan mata, film ini tidak membangkitkan emosi kita, membosankan dan membuat kita pulang tanpa membawa kesan apa-apa. Tapi, ini baru "Buku Satu" dari empat yang direncanakan. Masih mau menunggu episode berikutnya?
sumber:movie.detikhot.com oleh Mumu Aloha;foto:stuffwelike.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar